Kamis, 31 Maret 2016

Sepanjang Aliran Sungai Ciliwung

[Jalan-jalan] Sekolah Dasarku dulu, berada tidak jauh dari Sungai Ciliwung. Sungai besar yang membelah kota Jakarta ini, melintas tepat di depan sekolahku. Kami tinggal menyeberang jalan, lalu berjalan sejenak dan langsung tiba di tepi sungai.

rakit dari bambu di atas sungai Ciliwung tahun 1900
credit foto: http://poestahadepok.blogspot.co.id/2013/08/pelabuhan-di-daerah-aliran-sungai-das.html



Jangan bayangkan kondisi sungai Ciliwung seperti sekarang. Ketika aku masih kecil dahulu, yaitu ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar (tahun 1977-1983), Sungai Ciliwung ini airnya masih coklat bening.

Pepohonan masih tumbuh rimbun di sepanjang daerah rimpang alisan sungai (bahu sungai). Airnya pun masih mengalir deras. Terkadang, aku masih bisa menonton rombongan rakit bambu tampak dibawa oleh 2 atau 3 orang tukang perahu.

Rakit bambu ini, sebenarnya adalah gelondongan pohon bambu yang akan dibawa ke kota untuk dijual. Gelondongan bambu berguna untuk rangka atap rumah jaman dulu.

Ya. Jika sekarang banyak rumah yang menggunakan rangka atap dari bahan besi baja ringan; jaman aku kecil dulu rumah-rumah banyak yang menggunakan rangka atap dari bambu.

Penggunaan bambu memang banyak sekali. Sebagai bahan utama rangka atap bangunan yang dibangun, sebagai pagar keliling rumah, juga untuk furniture. Itu sebabnya aku sering sekali melihat rakit bambu digiring oleh para tukang perahu menuju ke hilir sungai Ciliwung.

Jaman aku kecil dahulu, di Sungai Ciliwung itu masih banyak buayanya. Bahkan konon, ada juga buaya putih. Buaya putih ini sebenarnya buaya albino biasa. Tapi karna warna kulitya berbeda jadilah beberapa orang yang percaya takhayul mempercayai bahwa jika buaya putih muncul di atas sungai ciliwung sebagai pertanda bahwa akan segera terjadi bencana di wilayah tersebut.

Sungai Ciliwung juga dalam. Dalam sekali.
Jadi airnya deras, dan kedalamannya terjal. Konon, di dalam air dalam sungai Ciliwung itu, juga terdapat pusaran air. Itu sebabnya jika ada orang yang tenggelam, mayatnya susah untuk dicari hari itu juga. Karena bisa jadi, mayat yang tenggelam itu sedang tersangkut di pusaran air di dalam sungai sehingga perlu waktu lama untuk muncul dalam kondisi membengkak.

Jika sedang istirahat sekolah, bersama teman-teman, aku sering menghabiskan makanan jajanan kami sambil berjongkok di tepi sungai Ciliwung. Pulang sekolah pun aku tidak langsung pulang. Melainkan duduk membuat bola bekel dari getah karet yang dioleskan di punggung tangan dan lengan.

Oh ya.. di tepi sungai Ciliwung juga dulu tumbuh aneka macam tanaman. Dan salah satunya, adalah daun kentut-kentutan. Daun ini, jika dipetik, maka getahnya akan menguarkan bau seperti kentut manusia. Baunya luar biasa. Itu sebabnya jika sudah mendapatkan pohonnya, kami langsung memasukkan daun yang dipetik mulai dari pangkal tangkai daun ke dalam kantong plastik. Nanti jika getahnya sudah mulai muncul, dengan sengaja kantong yang sudah menggembung itu dipecahkan di tengah anak-anak yang sedang bermain.

Iseng ya. Itu sebabnya teman-teman langsung menjauh hingga bau daun itu hilang.

Aku senang sekali karena SD ku berada dekat aliran sunga Ciliwung. Karena, ada banyak pengalaman masa kecil yang tak terlupakan yang aku habiskan sambil bermain di tepi sungai ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar