Kamis, 19 Juli 2018

Melukis dengan Kuas di Mulut

[oleh-oleh] Salah satu benda yang keberadaannya antara penting tidak penting itu sepertinya Kalender. Dianggap tidak penting, karena sebenarnya tanpa punya kalender pun kehidupan rumah tangga insya Allah akan terus berjalan. Kebutuhan sehari-hari tetap muncul, dan kewajiban memenuhinya tetap harus dilaksanakan.

kalender di rumahku, terkadang semua orang di rumah lupa mengganti lembar bulannya. Baru teringat untuk mengganti lembaran bulan yang telah berlalunya ketika ada sebuah rencana tertentu dimana rencana tersebut terkait dengan tanggal dan hari tertentu. Seperti, janjian untuk bepergian bersama misalnya.

"Bam, kamu bisa nggak ikut arisan keluarga tanggal 2 bulan depan?"
"Hari apa?" Lalu lirik ke arah kalender dan baru sadar, ternyata lembaran kalender yang dipajang masih lembaran bulan lalu. SRETT. Dirobek. Baru deh seksama memperhatikan keberadaan tanggal yang akan disepakati.



Pernah ya, dalam setahun, aku punya banyak sekali kalender. Ketika membeli sesuatu, bonusnya kalender. Ketika hadir di suatu tempat, cindera matanya kalender. Lalu, dari kantor suami, sekolah anak-anak. semua memberi kalender. Jadi kalender di rumah pun berlimpah. Akhirnya aku membuat pengumuman di group chat keluargaku.
"Ade punya banyak kalender nih. Ada yang mau nggak?"

Tapi, pernah juga dalam setahun, rumahku benar-benar sepi kalender. Tidak ada yang memberi bonus kalender, tidak ada cindera mata kalender, dan tidak ada pemberian kalender dari siapapun. Disitu terasa bahwa aku butuh kalender. Jadilah lari ke toko buku lalu membeli Kalender.  Bahkan, meski sekarang ada fitur kalender di gadget semua orang, tetap saja kalender fisik yang dipajang di rumah itu perlu untuk rumahku.

Tips Memilih Kalender A la Ade Anita


1. Yang angka tanggalannya besar-besar.

Ngomong-ngomong soal kalender, kalian sukanya kalender seperti apa? Kalau aku, jujur, jika aku yang memilih sendiri, aku lebih suka kalender dengan tayangan huruf yang besar-besar dan jelas. Mataku sudah progresif. Tapi kadang malas jika harus mengenakan kacamata. Nah. Kalau angka dan nama bulan dan nama hari di kalender kecil-kecil dan pilihan warna hurufnya bukan warna tegas, aku sulit untuk melihat apa yang diberitahukan oleh kalender tersebut.

Harus micing-micingin mata dulu baru deh terlihat tanggal dan harinya. Duh. Aku kurang suka dengan jenis kalender seperti ini.

2. Kalender dimana terdapat tanggalan Islam di dalamnya.

Nah. Ini juga penting buatku. Kenapa? Karena dengan begitu aku bisa mengira-ngira kapan bisa berpuasa pertengahan bulan hijriah setiap bulannya.

3. Kalender yang lobang buat nyantolin ke pakunya besar.

hehehe. Aku paling sebel jika bertemu kalender yang lobang untuk nyantol ke pakuya kecil. Karena akhirnya terpaksa deh, lubang kecil itu diterobos ke paku yang cukup besar yang telah tertancap duluan di dinding.

4. Baru deh gambarnya. Kalau bisa jangan gambar binatang atau orang.

Pernah ya, waktu anak gadisku baru belajar mengenakan pakaian dalam yang diperuntukkan untuk gadis remaja. Karena kami membeli langsung banyak, akhirnya pihak toko memberi bonus sebuah kalender.

Masalahnya, begitu dibuka di rumah, ternyata isinya kalender dengan gambar perempuan-perempuan yang mengenakan pakaian dalam saja. Ya, mau bagaimana lagi, namanya juga kalender gratisan dari toko pakaian dalam. Akhirnya, kalender ini disimpan saja. Tidak berani dipajang. Ketika ada saudaraku yang menanyakan apakah rumahku punya kalender berlebih karena tahun itu saudaraku itu tidak mendapat kalender gratisan dari siapapun, aku sodorkan kalender perempuan berpakaian dalam saja ini. Saudaraku berpikir lama. Berpikir keras. Tapi, berhubung waktu itu dia lagi butuh kalender banget (karena terkait dengan usahanya sebagai pedagang keliling dari bazar ke bazar), dia mau menolak kalender yang aku tawarkan ini. wekekekekek. Jadi, sebutuh-butuhnya orang akan kalender, jika gambarnya seronok dan cenderung vulgar, mereka akan menolaknya.

Nah. Tapi, jika kalender itu berisi kutipan ayat Al Quran pun aku biasanya tidak akan memilihnya sih. Bukan apa-apa. Jika telah habis bulannya, lembar bulan yang sudah lewat mau dikemanakan? Mau dibuang ke tempat sampah, duh, itu kan ada kutipan ayat  Al Quran-nya ? Mau dijadikan alas untuk baju di dalam lemari, tetap saja sih, kan ada kutiapn ayat Al Qurannya? Jadi serba salah sendiri. Jadi, aku menghindari memilih kalender yang berisi kutipan ayat Al Quran. Karena setelah tahun berlalu, lembar kalender itu pun harus disingkirkan.

Nah. Dari semua jenis gambar di Kalender yang pernah aku temukan, ada satu gambar Kalender yang cukup berkesan buatku. Jadi, aku simpan gambarnya dengan cara memotretnya. Gambar-gambar ini dibuat oleh komunitas disabilitas. Lukisan yang dibuat dengan menggunakan mulut mereka, karena para pelukisnya tidak memiliki lengan.

Masya Allah sekali ya. Bayangkan ketekunan mereka mencampur warna, memoles kuas di atas kanvasnya, sambil berimajinasi mau seperti apa lukisan yang akan mereka torehkan. Dan itu semua mereka buat dengan keterbatasan anggota tubuh mereka yang tidak sempurna. Duh, kita yang normal saja kesulitan untuk ikut lomba lari sambil mulut kita membawa sendok berisi kelereng. Nah, ini mereka menaruh kuas di mulut lalu melukis.

Melukis dengan Kuas di Mulut



credit photo: http://www.mouthartist.us/index.html



credit photo: https://www.imfpa.org/artist-135



credit photo: https://www.imfpa.org/artist-498




credit photo: https://www.imfpa.org/artist-584



credit photo: https://www.imfpa.org/painting-1295


Karena kagum, aku browsing pelukisnya. Jika kalian ingin melihat karya para pelukis yang desabilitas lainnya, yang melukis dengan mulut mereka, bisa datang ke web berikut ini: https://www.imfpa.org/index.php




2 komentar: