Langsung ke konten utama

Dyah Prameswari, Blogger Yang Jago Masak



[Oleh-oleh] Seperti biasa, pada sebuah akhir pekan, aku sekeluarga pergi makan di luar. Hmm. Sepertinya ini sudah menjadi sebuah kebiasaan sekaligus kebutuhan deh buat keluargaku. Yaitu, mengisi akhir pekan dengan makan-makan di luar rumah. Entah dimana saja.

Suamiku, bekerja dari hari senin hingga sabtu. Anak-anak juga sekolah, dan yang kuliah ya kuliah serta yang bekerja ya bekerja. Semua hari-hari selain akhir pekan terisi penuh. Tinggal aku sendiri yang jaga rumah. Masak sendiri, makan sendiri, cape sendiri. Hehehe. Jadi, ketika akhir pekan tiba; bukan hanya mereka yang beraktifitas di luar rumah saja yang "butuh piknik". Aku, yang sehari-hari di rumah pun, juga butuh piknik. Masa aku harus masak dan makan lagi sesuatu yang sudah menjadi makananku setiap hari? Aku perlu variasi makanan, juga variasi pemandangan. Itu sebabnya kami sekeluarga menyempatkan diri untuk bisa makan di luar rumah di akhir pekan.

Jika jalan ke suatu tempat, kami sekeluarga mencoba satu persatu tempat makan yang baru. Jika enak, besok-besok mungkin kami akan mampir lagi. Tapi jika tidak enak, kami tidak akan datang lagi. Nah. Salah satu tempat makan yang menurutku enak dan bikin ketagihan itu adalah, Hongkong Cafe.

Ada yang sudah pernah mencobanya? Mampir deh. Rekomendasi untuk tempat nongkrong yang asyik. Harganya juga nggak terlalu mahal sih menurutku. Sedang-sedang saja.

Aku sudah mencoba aneka menu yang disediakan di Hongkong Cafe. Penasaran saja, apakah semua menu yang ditawarkan enak atau yang mereka unggulkan saja yang enak. Dan ternyata, memang tidak ada menu unggulan khusus yang spesial ditawarkan sih. Jadi, sepertinya mereka percaya diri bahwa semua menu makanan yang disediakan itu enak.

nasi ayam hainam a la hongkong Cafe. Sambil mengudap makanan ini, aku membaca kembali novel pertamaku. Aku ingat, bahwa ketika awal tahun, aku membuat resolusi untuk bisa menghasilkan novel tahun ini. Tapi.... ini sudah bulan oktober ternyata. Hiks. Jadi, aku baca lagi novelku agar aku ingat bagaimana gaya dan karakterku dalam menulis novel.


Ngomong-ngomong tentang menulis novel nih. Ada juga teman blogger yang jago menulis cerita, sekaligus juga jago memasak. Dialah Dyah Prameswari.
Hmm. Bahkan, sebagai seorang penulis cerpen, blogger yang satu ini sudah lebih dulu malang melintang di dunia kepenulisan. Namanya sudah berkibar tinggi dan terkenal.

Nyaris di semua cerpen dan novelnya, dia menyelipkan tentang makanan. Ya. Itu karena Dyah Prameswari memang gemar memasak. Aku baca wawancara tentang Dyah Prameswari di sebuah website (web kumpulan emak blogger). Ternyata, setelah malang melintang di dunia kepenulisan, Dyah pada tahun 2015 memutuskan untuk terjun juga sebagai blogger karena beberapa alasan. Yaitu:

  1. Ingin dekat dengan nara sumber yang berhubungan dengan dunia kuliner. Kebetulan saat itu saya sedang menulis tentang novel kuliner.
  2. Ingin menambah pengetahuan dan memuaskan passion di dunia kuliner. Saya senang sekali belajar tentang bahan masakan, sejarah dan cerita di balik makanan. Saya pikir dengan menjadi blogger maka saya bisa mendalami hal ini.
  3. Ingin berbagi resep dan pengalaman saya ketika bereksperimen di dapur
Tuh kan. Nggak jauh-jauh dari makanan kan. Bahkan, isi blognya pun fokus di kuliner saja. Yaitu serba serbi kuliner, baik tentang resep, sejarah makanan, kebiasaan kuliner di banyak tempat, dan tempat-tempat kuliner yang asyik. Kalaupun ngomongin yang lain tetap saja akan dihubungkan dengan kuliner. Itu sebabnya blognya Dyah Prameswari ini diberi nama Dydie The Kitchen Hero. Kalian bisa mengunjunginya di Dyahprameswari.com.
Hmm.. .Kembali ke menu yang aku share dan dia perhatikan ya (sumpah ini bikin aku senang banget).

Jadi, suatu hari, setelah selesai wisata kuliner di Hongkong Cafe yang ada di Kuningan City, Jakarta nih. 



Aku share salah satu makanan yang ada di menu kafe yang aku sukaaaaaa pake banget. Yaitu nasi bakar mereka. Ya ampun ya itu nasi bakar. Kejunya tuh tebal dan meleleh gitu. Duh... mana disajikan dengan hot plate pula. Belum nyendok aja air liurku rasanya sudah mau tumpah. Harum keju mozarellanya tuh... ampunnnnn... nggak tahan deh. Benar-benar menggugah selera buat penggemar keju seperti aku. (celeguk... celeguk).



sapaan Dyah Prameswari di foto yang aku share di Instagramku



Lalu aku menanti dong resepnya.

Wuaaahh... bolak balik buka IG nya Dyah berharap dia men-tag aku resep nasi bakar ini. Karena aku tahu Dyah itu orangnya ulet kalau sudah bertemu dengan makanan. Dia bakalan nyari resep, mencobanya, dan jika sudah berhasil bakalan dishare. Dan biasanya resepnya itu mudah; tidak serumit resep yang diberikan oleh para master cheff yang sering menggunakan bahan makanan yang bikin kita terpaksa harus jalan dulu ke supermarket buat mencarinya kalau mau buat.

Aku perhatikan, Dyah gemar memanfaatkan apa yang ada di dalam kulkas dia. Jadi mirip sama kebiasaan aku jika sedang di dapur. Bedanya, kebiasaan aku ini hadir karena aku sering malas jika harus pergi ke supermarket atau pasar secara khusus guna memraktekkan sebuah resep. Menu yang aku masak di rumah, ya memanfaatkan apa yang ada di dalam kulkas biasanya. Hehehe.


Wuaaaahhh... bener kan apa kataku.

Jika kalian ingin melihat resepnya, mampir saja ya ke sini: Baked Rice Chicken Katsu with Creamy Cheesy SauceDisana bahkan ada banyak resep yang menggoda dan mudah untuk dicoba.

Komentar

  1. Nyam...nyam...baca cerita ttg Mbak Didie, Mbak Ade 😄

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Masakan India Utara dan India Selatan

[Icip-icip] Apa sih bedanya makanan India utara dan India Selatan? Eh.. memangnya mereka berbeda ya? Bukannya masakan India mirip-mirip semua, rata-rata kari?

Dulu, sebelum aku sering mencoba wisata kuliner icip-icip masakan India, aku merasa bahwa masakan mereka sama semua. Kari, pedas, roti cane. Tidak jauh berbeda dengan variasi itu. Tapi setelah beberapa kali menjalani wisata kuliner masakan India yang terdapat di Singapura dan Malaysia, rasanya aku mulai tahu bahwa mereka berdua berbeda.

Bakso Pak Jokowi

[Jalan-jalan] Seberapa besar nama besar seseorang bisa mempengaruhi penjualan suatu barang? Jawabannya cukup besar. Karena nama besar, akan membuat kesan pertama begitu berkesan yang membuat orang teringat dan akhirnya... terdorong untuk membeli. Lagi dan lagi.

Seperti halnya bakso jawa Pak Jokowi yang ada di wilayah Tebet, Jakarta Selatan ini. Letaknya tepat di seberang TK Aisyiyah 4, Jalan Raya Tebet Timur , Jakarta Selatan.