Pengikut

Murah Bukan Berarti Murahan

| on
April 28, 2019
[Icip-icip] Satu hari setelah hari Kartini, di tahun ketika putri bungsuku masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Sekolah putriku mengadakan perayaan di sekolah. Ada bazar juga disana.  Beberapa temanku ikut acara bazar itu. Mereka menjual aneka dagangan.

Untuk bisa mengikuti bazar ini, ada harga yang harus dibayar loh. Jadi tidak gratis begitu saja. Ada 3 baris meja. Meja pertama harga sewanya Rp250.000. Meja baris ke 2 harganya Rp200.000. Dan meja baris terakhir harganya Rp150.000.

Ini cuma ilustrasi aja

Ketika acara di panggung sedang berlangsung aku tiba-tiba ingat bahwa aku belum sarapan. Bergegas aku menuju meja bazar.

Jujur saja; terkadang aku membeli sesuatu itu alasannya karena ingin memberikan dukungan pada teman yang mau berusaha untuk mandiri. Buatku, usaha mereka ini jauh lebih mulia ketimbang mereka yang hidup bergantung pada belas kasihan orang lain. Jadi... karena aku tahu harga sewa meja di bazar itu, maka niatku adalah: ingin membantu meja yang sepi pembeli saja deh. Setidaknya agar yang berjualan semangat dan lupa dengan putus asa mereka.

Aku pun mampir di satu meja baris belakang. Ada aneka cemilan disana. Semua masih lengkap terhidang. Har8 masih terhitung pagi memang. Jadi akupun beli 1 mini makaroni schotel mereka. Harganya Rp4000. Juga 1 cupcake di meja sebelahnya yg harganya Rp10.000.

Dalam hati, aku niatnya tidak mau membeli pizza merek terkenal yg juga buka stand disana. Kupikir mereka kan sudah lebih mapan, jadi lebih baik bantu usaha kecil dulu deh.

Tapiiii..... ternyata rasa makaroni schotelnya asli gak enak. Sepertinya ada banyak bahan2 yg diganti oleh pembuatnya untuk mencegah kerugian (*aku terbiasa masak sendiri soalnya utk jenis makaroni schotel). Susunya, sepertinya diganti air agar biaya produksi murah. Akibatnya dia jadi keras. Lalu kejunya diganti dengan campuran tepung dan garam serta penyedap. Telurnya juga kurang.
Ah.
Mengecewakan.
Cuma satu suapan, aku tidak sanggup menghabiskannya. Cemilan ini aku buang terpaksa diam2. Kesal sekali.

Lalu beralih ke cup cake.
Ini pun mengecewakan. Adonannya bantet. Gumpal dan seperti kurang telur. Atau mungkin memakai mentega kiloan yang pernah dibekukan di kulkas.

Akhirnya 2 cemilan yg kubeli dengan niat baikku malah bikin kecewa. Mau tidak mau, karena lapar, aku akhirnya membeli Pizza merek terkenal itu.

Sebenarnya... sebagai pembeli, yang diinginkan itu sederhana saja: kepuasan dan bebas dari rasa kecewa.

Sayangnya, sebagai pedagang,  banyak yang berpikir bagaimana caranya bisa meraup untung dengan menekan harga semurah mungkin, dan jika perlu menipu pembeli.

Padahal, sebagai pembeli, kadang pembeli rela dan ikhlas loh merogoh kocek lebih dalam demi mendapatkan kepuasan dan bebas dari rasa kecewa.

Sayang. Tidak semua pedagang mengerti hal ini.
Sayang sekali.

Jangan heran jika aku akhirnya memutuskan untuk tidak lagi percaya pada semua produk yang dijual oleh ke 2 temanku itu. Kami tetap ngobrol, akrab, tapi untuk melakukan transaksi, aku masih belum bisa mengobati rasa kecewaku.

Lalu....
Tiba2 aku jadi ingat Indonesia dan apa yang dilakukan oleh pedagang instan guna meraih untung barang dagangannya. Memakai formalin,  menaruh ganja, menjual barang basi, menipu pembeli dengan cara yang mengesalkan..... ah.

Hal2 ini yang merusak niat semua orang yang ingin membantu sesama saudara sebangsa setanah air kita.

Nanti giliran kita ramai-ramai meninggalkan usaha kecil dan menengah lalu menyerbu produk impor atau papan atas atau bermerek.... pembeli juga yang dihujat tidak memiliki nurani.
Ini mungkin yang disebut karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Murah itu...tidak selalu murahan kok.
Dan kreatifitas itu harus tetap dibingkai oleh sportifitas.
Be First to Post Comment !
Posting Komentar