[Jalan-jalan] Kadang, merasakan shalat di negara lain itu sensasinya luar biasa. Selalu ada cerita seru, karena tidak semua negara memiliki penduduk yang mayoritas beragama Islam seperti halnya Indonesia.
Kali ini aku ingin bercerita tentang pengalamanku menjalankan ibadah shalat Idul Adha di Negara Singapura ketika aku berlibur bersama keluargaku kemarin.
Sejak anak-anakku masih kecil, yang namanya jalan-jalan sekeluarga itu buatku asli menyenangkan sekali. Seru. Selalu ada cerita-cerita seru yang muncul dalam rombongan keluargaku ini.
Aku dan keluargaku jarang sekali mengikuti paket tour seperti yang ditawarkan oleh agency traveling alias biro perjalanan. Biasanya, kami memesan tiket sendiri, mencari hotel sendiri dan mengatur jadwal jalan-jalan pun sendiri. Bekalnya satu: peta alias map. Tapi seiring dengan perkembangan jaman seperti sekarang, kemudahan ditambah lagi dengan: melihat google.
Penduduk beragama Islam di Singapura itu sebenarnya menempati posisi nomor dua terbanyak di negara ini. Hanya saja, kebanyakan mereka berasal dari India, atau wilayah Arab lainnya. Tapi Muslim India mendominasi.
Ada perbedaan dalam menjalankan tata cara Ibadah antara India dan Melayu. Entahlah. Pada dasarnya mereka sama saja sih. Sama-sama aliran Sunni, tapi karena tidak terbiasa jadi terasa bedanya. Tapi yang pasti, muslim India akan menerapkan ceramah alias khutbah dalam bahasa Tamil.
Bahasa Tamil tuh,.... hmm. Jika menggeleng berarti iya, jika mengangguk berarti tidak. Itu salah satu perbedaannya. Belum lagi seluruh bahasanya yang tidak kami mengerti.
Jadilah ketika selesai shalat shubuh, putra pertamaku segera searching google untuk mencari masjid yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar khutbahnya.
Di dekat Hotelku, Sandpiper Hotel, sebenarnya ada sebuah masjid. Namanya Masjid Abdul Gaffoor. Tapi ya itu tadi, menggunakan bahasa Tamil sebagai bahasa pengantar khutbahnya.
Setelah mencari-cari, akhirnya putraku menemukan bahwa di Arab Street, ada sebuah masjid yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa Pengantarnya. Tapi, shalat dilakukan pukl 08.00 dan hanya satu gelombang saja. Sedangkan di Masjid dekat rumah, dilakukan 2 gelombang.
Setengah bergegas, kami sekeluarga pukul 8 kurang sudah berangkat menuju ke masjid yang katanya menggunakan bahasa Melayu tersebut. Melewati jembatan, menyeberang lampu merah beberapa kali, melewati banyak apartemen, akhirnya tiba juga di Masjid tersebut.
Tiba di Masjid, ternyata Imam sudah memimpin hingga rakaat ke dua.
Wah.
Sudah pasti nggak keburu kan kalau mau ikut jamaah. Belum pakai mukenahnya, belum berjalan mencari tempatnya.
Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali ke masjid Abdul Gaffoor saja, yang letaknya bersebelahan dengan hotel.
Dan benar kendala bahasa aku temui ketika tiba di masjid. Semua jamaahnya orang India dan bahasa Inggrisnya bikin bingung. Gimana coba mau bertanya, "lokasi untuk jamaah wanita nya dimana ya?"
Setiap kali aku bertanya, mereka mengangguk dan itu artinya tidak. Ah, Pusing.
Akhirnya, seseorang mengajakku ke suatu tempat. Aku dan kedua putriku mengikutinya. Tapi ternyata dia menempatkan kami di sebuah ruangan semacam kantor pengurus masjid.
Lahhh... kesannya kami lagi mencari tempat bernaung karena tersasar gitu.
Akhirnya setelah bertanya kesana kemari, seorang lelaki menunjukkan ke suatu arah.
"Woman, in room with glass."
Lalu dia menunjuk ke suatu arah. Hanya saja, karena bagian wanita ini terlarang dimasuki pria jadi dia tidak bisa mengantar hingga ke lokasi. Seorang perempuan akhirnya muncul dan menuntun kami menuju ke tempat wanita.
Ternyata, jamaah perempuannya sedikit sekali. Rupanya, tidak umum seorang perempuan pergi ke masjid untuk shalat Idul Adha di Masjid India. Tapi, ya, lumayanlah. Alhamdulillah bisa menjalankan shalat Idul Adha meski tidak mendengarkan ceramahnya karena tidak mengerti sepotong kalimatpun.
Tapi pengalaman banget sih merasakan kisah ini. Perjalanan dari masjid satu ke masjid lain itu yang seru. hehehe.
Kali ini aku ingin bercerita tentang pengalamanku menjalankan ibadah shalat Idul Adha di Negara Singapura ketika aku berlibur bersama keluargaku kemarin.
Sejak anak-anakku masih kecil, yang namanya jalan-jalan sekeluarga itu buatku asli menyenangkan sekali. Seru. Selalu ada cerita-cerita seru yang muncul dalam rombongan keluargaku ini.
Aku dan keluargaku jarang sekali mengikuti paket tour seperti yang ditawarkan oleh agency traveling alias biro perjalanan. Biasanya, kami memesan tiket sendiri, mencari hotel sendiri dan mengatur jadwal jalan-jalan pun sendiri. Bekalnya satu: peta alias map. Tapi seiring dengan perkembangan jaman seperti sekarang, kemudahan ditambah lagi dengan: melihat google.
Penduduk beragama Islam di Singapura itu sebenarnya menempati posisi nomor dua terbanyak di negara ini. Hanya saja, kebanyakan mereka berasal dari India, atau wilayah Arab lainnya. Tapi Muslim India mendominasi.
Ada perbedaan dalam menjalankan tata cara Ibadah antara India dan Melayu. Entahlah. Pada dasarnya mereka sama saja sih. Sama-sama aliran Sunni, tapi karena tidak terbiasa jadi terasa bedanya. Tapi yang pasti, muslim India akan menerapkan ceramah alias khutbah dalam bahasa Tamil.
Bahasa Tamil tuh,.... hmm. Jika menggeleng berarti iya, jika mengangguk berarti tidak. Itu salah satu perbedaannya. Belum lagi seluruh bahasanya yang tidak kami mengerti.
Jadilah ketika selesai shalat shubuh, putra pertamaku segera searching google untuk mencari masjid yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar khutbahnya.
Di dekat Hotelku, Sandpiper Hotel, sebenarnya ada sebuah masjid. Namanya Masjid Abdul Gaffoor. Tapi ya itu tadi, menggunakan bahasa Tamil sebagai bahasa pengantar khutbahnya.
Setelah mencari-cari, akhirnya putraku menemukan bahwa di Arab Street, ada sebuah masjid yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa Pengantarnya. Tapi, shalat dilakukan pukl 08.00 dan hanya satu gelombang saja. Sedangkan di Masjid dekat rumah, dilakukan 2 gelombang.
Setengah bergegas, kami sekeluarga pukul 8 kurang sudah berangkat menuju ke masjid yang katanya menggunakan bahasa Melayu tersebut. Melewati jembatan, menyeberang lampu merah beberapa kali, melewati banyak apartemen, akhirnya tiba juga di Masjid tersebut.
Tiba di Masjid, ternyata Imam sudah memimpin hingga rakaat ke dua.
Wah.
Sudah pasti nggak keburu kan kalau mau ikut jamaah. Belum pakai mukenahnya, belum berjalan mencari tempatnya.
Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali ke masjid Abdul Gaffoor saja, yang letaknya bersebelahan dengan hotel.
Dan benar kendala bahasa aku temui ketika tiba di masjid. Semua jamaahnya orang India dan bahasa Inggrisnya bikin bingung. Gimana coba mau bertanya, "lokasi untuk jamaah wanita nya dimana ya?"
Setiap kali aku bertanya, mereka mengangguk dan itu artinya tidak. Ah, Pusing.
Akhirnya, seseorang mengajakku ke suatu tempat. Aku dan kedua putriku mengikutinya. Tapi ternyata dia menempatkan kami di sebuah ruangan semacam kantor pengurus masjid.
Lahhh... kesannya kami lagi mencari tempat bernaung karena tersasar gitu.
Akhirnya setelah bertanya kesana kemari, seorang lelaki menunjukkan ke suatu arah.
"Woman, in room with glass."
Lalu dia menunjuk ke suatu arah. Hanya saja, karena bagian wanita ini terlarang dimasuki pria jadi dia tidak bisa mengantar hingga ke lokasi. Seorang perempuan akhirnya muncul dan menuntun kami menuju ke tempat wanita.
Ternyata, jamaah perempuannya sedikit sekali. Rupanya, tidak umum seorang perempuan pergi ke masjid untuk shalat Idul Adha di Masjid India. Tapi, ya, lumayanlah. Alhamdulillah bisa menjalankan shalat Idul Adha meski tidak mendengarkan ceramahnya karena tidak mengerti sepotong kalimatpun.
Tapi pengalaman banget sih merasakan kisah ini. Perjalanan dari masjid satu ke masjid lain itu yang seru. hehehe.
Gak ngerti ya kalo bahasanya tamil. Aku jadi penasaran kayak apa serunya
BalasHapusAku pusing mengerti bahasa mereka. Karena gelengan kepala itu nyaris hadir di sepanjang percakapan padahal gelengan di kita artinya tidak tapi bagi mereka iya
HapusAiihhh seruu banget mba liburannya. Kami jg baru plg mudik smlm nih, menengok org tua di kampung halaman :)
BalasHapusAsyikkan dirimu lah mak.. Masih punya orang tua dan kampung halaman..aku tuh gak punya keduanya lagi
HapusPengalaman asyik nih bisa lebaran idul Adha di Singapura, mba ;)
BalasHapusIya alhamdulillah aayik banget kemarin
HapusMasya Allah bisa shalat idul adha di negara orang. Pasti rasanya beda ya mba. Aku udh pulang dari singapura sebelum idul adha, jadi ngga sempet ngerasain sensasinya shalat di negara orang.
BalasHapusIya alhamdulillah.. Senang
HapusSeru ya pengalamannya
BalasHapusSeru banget..ini yg bikin kangen buat bisa liburan lagi
HapusBerasa di planet mana gitu ya mbak kalo gak saling paham bahasa
BalasHapusIya, karena meski bahasa inggris sudah universal tidak semua orang bisa bahasa inggris. Eh termasuk aku sih
Hapuswah.. jadi bingung ya.. kalo gak di ingat2 .. kalo menggeleng iya.., dan tidak itu anggukan... untung udah tau dari awal.. kalo belum..?? ga nyambung2..
BalasHapusSempet gak nyambung pas pesan makanan. Anakku nunjuk sesuatu dan waiternya mengangguk angguk tapi kok gak diambil..ternyata mengangguk itu artinya tidak hahahha
Hapusemang rejekinya disana ya mba Ade...tapi syukurlah masih bisa shalat Idul Adha berjamaah dgn sodara seiman ya...
BalasHapusSebenernya ini dah direncanakan sih krn kebetulan anak dan suamiku libur kerja krn libur hari raya jadi kami isi liburan dengan jalan2 ke negara lain
HapusSenang y mba bisa ngerasain lebaran di negeri orang :)
BalasHapusIya alhamdulillah
Hapusklo aku udh panik bgt tuh, hihi
BalasHapusjadi kepengen mba Ade
BalasHapusJam berapa ya kalau mulai Shalat Idul Adha di singapur?
BalasHapus