Pengikut

Covid Test di Jakarta

| on
Juni 25, 2020
[Jalan-jalan] Setelah 3 bulan lebih mematuhi himbauan pemerintah untuk #dirumahsaja, satu hal yang aku kangenin sekarang itu adalah bisa jalan-jalan lagi dengan cara yang normal. Alias melakukan traveling dalam arti sesungguhnya. Jalan kaki kemana-mana dengan sepatu kets, baju gamis, jilbab yang bahannya adem, pakai suns cream, foto-foto, beli jajanan yang dijual di  kaki lima, dan itu semua dilakukan tanpa harus mengenakan masker dan penutup wajah berbahan dasar mika bening alias face shield.

Covid Test di Jakarta
kangen liburan deh

Liburan tuh buatku penting untuk menjaga emosiku agar tetap tenang dan happy. Juga penting untuk membuatku agar bisa menyegarkan kembali otak dan badan yang sudah terasa penat.

Bingung kan, liburan kan judulnya banyak jalan, banyak terkena sinar matahari, tidur kurang karena terlalu happy untuk jalan-jalan ke banyak tempat, dan makan juga otomatis jadi nggak teratur karena lupa waktu ketika jalan-jalan. Terus, kenapa bisa bikin segar otak dan badan yang penat? Karena, dengan liburan, kita tanpa sadar sedang melakukan regenerasi terhadap hormon dopamin kita. Yaitu hormon yang memberi rasa senang dan bahagia. Dengan cara memberi variasi pemandangan baru, suasana baru, cerita baru. 

Covid Test di Jakarta
Tugu 0 Kilometer di Kuala Lumpur

Covid Test di Jakarta
Liburan di Singapura

Tapi eh tapi, liburan di masa transisi pandemi Covid 19 ini sepertinya bukan saat yang tepat. Karena tidak semua negara di seluruh dunia ini bisa dikunjungi oleh kita akibat dari kebijakan kesehatan yang diterapkan oleh tiap-tiap negara berbeda-beda aturannya. Ada negara yang menerapkan aturan hanya menerima beberapa negara terpilih saja yang bisa mengunjungi negara mereka, ada juga negara yang bahkan menolak kunjungan dari semua turis manca negara ke negaranya. Dan terakhir, ada juga negara yang menerapkan aturan boleh berkunjung tapi ada prosedur prasyarat yang harus dipatuhi oleh semua pengunjung alias turis di negara mereka.

Misalnya nih, yang aku obrolin bersama dengan teman-temanku di sebuah group chat whatsapp.

Covid Test di Jakarta
diskusi perihal peraturan wajib melakukan test covid jika akan mengunjungi negara lain

Mengapa kita wajib melakukan Covid Test ketika akan berkunjung ke negara lain?

Pertanyaan ini menjadi penting untuk dijawab karena begitu di masa new normal nyaris semua orang sudah merencanakan untuk bisa segera melakukan perjalanan ke banyak tempat. Baik itu tempat yang jauh maupun tempat yang dekat. Baik itu tempat yang mahal maupun tempat yang murah. Yang penting bahagia saja. Dan di masa pandemi COVID 19 ini ada tambahan lagi, yang penting SEHAT.

Untuk menyegarkan ingatan, karena virus COVID 19 masih berkeliaran di luar sana meski pemerintah sudah merencanakan untuk mulai masa New Normal, aku perlu mengingatkan kalian semua agar tetap waspada pada bahaya Virus Covid 19.







Karena begitu masivnya penyebaran virus Covid 19 ke seluruh dunia yang ditularkan lewat dropplet, maka WHO menetapkan penyebaran virus COVID 19 ini sudah menjadi sebuah pandemi dunia. Nyaris 200 negara yang sudah melaporkan sudah ada korban tertular virus Covid 19 di negara mereka. 

Sejak kemunculannya di bulan Desember 2019, hari ini (tanggal 24 Juni 2020) sudah menginfeksi 9, 24 juta, dimana korban meninggal 477.000 dan mereka yang sudah sembuh adalah sebanyak 4,61 juta.

Angka kesembuhan semakin bertambah memang alhamdulillah di banyak negara. Tapi, tetap harus diwaspadai gelombang kedua yang bisa terjadi kapan saja. 
Apa itu gelombang kedua serangan COVID 19? Yaitu ketika suatu negara yang dinyatakan sudah berhasil mengatasi masalah pandemi C19 di negaranya tiba-tiba mengalami pertambahan jumlah korban baru yang tertular atau mereka yang sudah sembuh tiba-tiba tertular kembali.

Untuk itu, maka banyak negara melakukan tindakan preventif agar pergerakan pertambahan korban tertular virus C19 ini bisa ditangani dan mencegah agar tidak muncul kasus baru lagi.

Gimana caranya? Dengan cara, mencari mereka yang sakit agar mau segera berobat.
Kok bisa, sudah tahu sakit malah tidak mau berobat hingga harus dicari oleh pemerintah?
Iya, karena memang sekarang ada banyak sekali orang yang sebenarnya sudah terinfeksi tapi dia terlihat sehat dari luar. Orang seperti ini disebut dengan Orang Tanpa Gejala.

Orang tanpa gejala ini sama bahayanya dengan mereka yang sudah menunjukkan gejala tertular virus C19. Bahkan, orang tanpa gejala bisa dibilang lebih berbahaya dariapda orang yang dengan gejala. 

Mengapa orang tanpa gejala lebih berbahaya daripada orang dengan gejala?

Karena orang tanpa gejala ini tidak merasa dirinya sakit dan dia bebas mendekati siapa saja tanpa kewaspadaan. Akibatnya, orang yang sehat bisa tertular karenanya. Entah itu lewat sentuhan fisik yang dilakukannya, atau lewat sentuhan non fisik seperti ketika ngobrol, atau lewat pertukaran makanan minuman tanpa sengaja. 

Orang sehat tidak waspada, dan menganggap orang yang ada di hadapan mereka, yang terlihat sehat dan ceria, adalah orang sehat. Lalu berhubungan tanpa protokol kesehatan. Inilah bahayanya. 

Hal sebaliknya ketika kita melihat orang yang terlihat sakit dan menunjukkan gejala COVID 19 seperti sesak napas, batuk, demam. Otomatis kita akan jaga jarak dan menutupi diri kita dengan perlindungan. 

Nah, masalahnya, kehadiran orang tanpa gejala ini tidak diketahui jumlahnya berapa banyak dan siapa saja. Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo pernah mengatakan bahwa sebanyak 76 persen pasien positif Covid-19 adalah Orang Tanpa Gejala (OTG). Sementara menurut Ahli Epidemiologi UI Pandu Riono, persentasi OTG sedikit lebih tinggi yakni 86 persen dari total orang yang terinfeksi sejak 2 Maret lalu di Indonesia.
"Sebagian besar kasus merupakan OTG yang tidak perlu perawatan khusus, hanya 3-4 persen pasien yang memerlukan perawatan khusus," (dikutip dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200505154007-20-500319/orang-tanpa-gejala-corona-jadi-dilema-penanganan-covid-19).

Terus gimana dong menangani Orang Tanpa Gejala ini? Tidak ada jalan lain selain selain dengan melakukan  Covid test. Dan Jakarta adalah kota besar yang pertama kali memiliki jumlah korban terinfeksi Virus Covid 19 terbesar di Indonesia pada awal sebelum diberlakukan PSBB. Di Masa Transisi PSBB seperti sekarang covid test Jakarta menjadi sesuatu yang penting untuk dilakukan. 

Siapa saja yang perlu melakukan Covid Test Jakarta di kota Jakarta ini?


1. Mereka yang baru datang dari luar kota setelah melakukan perjalanan dimana dalam perjalanan tersebut mereka bertemu dengan banyak orang.
2. Kaum migran yang semula berasal dari daerah datang ke ibu kota untuk bekerja di kota Jakarta.
3. Mereka yang akan melakukan perjalanan ke luar negeri, karena selain Visa kunjungan sekarang hasil  Covid Test juga perlu disertakan dalam dokumen pemeriksaan.
4. Mereka yang akan mengikuti ujian tertentu dimana berkas sehat dari Covid 19 harus dilampirkan sebagai salah satu prasyarat dokumen.
5. Para pelajar yang dari luar negeri datang ke Indonesia dalam rangka pulang ke Indonesia atau Pelajar yang ingin kembali ke luar negeri tempatnya belajar setelah ketika pandemi dipulangkan oleh negara tempat dia belajar.
6. Para pekerja yang akan melakukan perjalanan dinas.
7. Para pekerja yang kegiatannya banyak bertemu dengan orang banyak secara langsung (misalnya para pedagang di pasar, pembeli yang rajin datang ke pasar, pekerja yang bekerja di pasar atau wilayah umum lainnya).
8. Pasien yang akan melakukan prosedur operasi di rumah sakit. 
9. Pasien yang mengalami gejala Covid 19.
dan masih banyak lagi.


Dimana kita bisa melakukan Covid Test di Jakarta?


Tentu saja pertanyaan ini dibilang mudah ya tidak mudah tapi dibilang sulit dijawab sebenanya mudah.
Tidak mudahnya karena meski sekarang ini kabarnya layanan untuk melakukan Covid test mudah dilakukan di banyak tempat; terlebih sekarang bahkan semakin banyak kegiatan jemput bola yang dilakukan oleh para petugas gugus depan penanganan Covid 19. Yaitu lewat gelaran Covid Test gratis di tempat publik seperti pasar tradisional dan mall-mall atau kantor milik pemerintah lainnya.

Tapi, pastilah ada rasa khawatir tersendiri jika ikut covid test gratisan seperti ini. Khawatirnya karena, sepertinya, sarung tangan yang digunakan oleh para petugas pengambil sampel air ludah kita itu sarung tangannya tidak diganti-ganti. Gimana kalo ada orang yang tersedak lalu air ludahnya terpercik di sarung tangan plastik tersebut? Bukannya malah jadi nular nggak sih kitanya?

Kalau aku sih, lebih nyaman melakukan Covid Test di tempat yang resmi dan insya Allah lebih terjaga kebersihan dan kehati-hatiannya ya. Rumah sakit misalnya. Masalah berikutnya, aku bingung saja dimana saja rumah sakit yang meyelenggarakan program Covid Test di Jakarta.

Alhamdulillahnya ternyata informasi tentang Covid Test Jakarta bisa aku dapat di website Halodoc.com.

Halodoc.com adalah website kesehatan dimana di dalam website ini kita bisa mendapatkan aneka macam informasi seputar kesehatan. Baik informasi seputar penyakit yang kekinian seperti Virus Covid 19, maupun penyakit yang memang sudah ada sejak jaman dahulu dan diidap oleh banyak orang. Informasi tentang penyakit lumayan cukup banyak loh di website Halodoc.com ini. 



Adapun khusus jika kalian ingin mencari tahu dimana saja rumah sakit yang menyediakan layanan Covid Test di Jakarta,   kalian bisa mengakses di sini nih:

Pilih fitur "cari dokter" lalu masukkan kata kunci di kolom pencari = covid test. Nanti akan muncul aneka pilihan rumah sakit atau praktek dokter yang menyediakan layanan covid test, lengkap dengan harga yang ditawarkan dan lokasi rumah sakit tersebut. Tinggal pilih deh selanjutnya, layanan covit test seperti apa yang kalian inginkan, sesuaikan dengan jarak tempuh ke lokasinya. Kalau bisa sih jangan ambil yang terlalu jauh dari rumah ya, jadi tidak terlalu lama bertemu dengan orang banyak. Khususnya jika kalian akan menggunakan kendaraan umum untuk mencapai lokasi tersebut.


Ada 2 layanan Covid test yang bisa dilakukan dan dipilih. Ada yang rapid test, ada  yang swab test. Terserah kalian mau memilih yang mana.

Semoga hasilnya negatif ya. 
Semoga kita semua sehat semua. Aamiin. 

Be First to Post Comment !
Posting Komentar