Pengikut

Tersesat dan Tersasar

| on
Desember 15, 2018
[Jalan-jalan] Suatu hari di waktu kecilku dahulu. Aku seorang diri di pinggir jalan rek kereta api. Rumahku memang tidak jauh dari rel kereta api. Mungkin sekitar 900 meter. Dan sekolahku, lebih dekat lagi dengan rel kereta api, mungkin sekitar 500 meter saja. Dan diriku sendiri, amat sangat dekat dengan rel kereta api, hanya 3 meter dari rel kereta api. Menangis dan bingung.




Tersasar dan Tersesat


Aku punya seorang teman, namanya Dewi Sulistiwati. Anaknya mungil, rambutnya keriting, bibirnya mungil, kulitnya sawo matang dan matanya bulat. Kami bersahabat. Dia tinggal di rumah yang ada di pinggir rel kereta api. Persisi di sebelah rel, tidak jauh dari Stasiun Duren Kalibata. Ketika aku sudah duduk di kelas 6 SD nanti, rumah Dewi Sulistiwati ini digusur oleh PJKA dan aku pun terpisah dengan Dewi Sulistiwati. Terakhir, aku berkunjung ke rumahnya, dia tinggal di Sunter, di Kompleks TNI AU.

Nah. Pulang sekolah, entah bagaimana caranya, aku bersedia ikut ketika Dewi mengajakku main ke rumahnya. Setelah puas main, aku pun pamit pulang. Masalahnya, aku lupa dimana rumahku.

Yap.
Ingatanku jangka pendekku payah memang. Aku tidak ingat dimana rumahku berada. Itu sebabnya ketika masih TK dulu, ibuku selalu menugaskan seseorang untuk mengantar dan menjemputku ke sekolah. Tapi, hari ini tanpa memberitahu siapa-siapa, aku malah ikut temanku main ke rumahnya. Dan ketika waktu pulang tiba, aku lupa dimana rumahku.

Akhirnya, saudaranya Dewi mengantarku pulang. Karena aku tidak tahu rumahku dimana, oleh saudaranya Dewi aku pun diantar kembali ke sekolah TK ku. Harapannya, dari TK aku bisa pulang sendiri. Jadilah aku diturunkan di TK-ku.

Tapi, aku tetap tidak tahu dimana rumahku, dan TK ku sudah sepi karena semua orang sudah pada pulang, termasuk guruku. Sekolahku dikunci. Sementara  saudaranya Dewi sudah pulang.

Karna bingung, aku mulai mencoba untuk mengingat-ingat dimana rumahku. Dan mengambil inisiatif untuk mulai berjalan ke arah rumahku. Aku berjalan, hingga lelah, dan akhirnya mendapati di depanku terbentang jalan rel kereta api. LAGI. Hah? Berarti aku bukannya berjalan ke arah rumahku tapi malah ke arah antah berantah yang dekat dengan jalan rel kereta api.

Seseorang berteriak padaku lalu tiba-tiba menarik tubuhku dengan kasar. Lalu... BURRRR.... Kereta api lewat. Suaranya berisik sekali. Setelah kereta api berlalu, orang yang menarikku memarahiku.

"Matanya kemana nih? Itu ada kereta api! Nanti kegiles kereta aja."

Lalu orang itu pergi sambil bersungut-sungut setelah selesai memarahiku yang dianggapnya lengah. Dan aku kembali sendiri. Berjalan bingung, dan positif tersesat. Semakin banyak berjalan, semakin tersasar.
Akhirnya, aku pun menangis.
Tapi tidak ada orang yang lewat karena tidak ada orang yang mau lewat pinggiran rel kereta api.
Hingga sore menjelang.
Aku mulai lelah menangis. Ketika tiba-tiba seseorang meraih kerah bajuku dengan tiba-tiba.

Ibu.
Orang itu adalah ibuku.

"Ade. Kamu kemana aja nak?"
Ibu langsung memelukku erat sambil menangis. Bingung, aku ikut menangis. Tidak lama, ibu melepas pelukannya dan mulai menggandeng tanganku untuk diajak pulang. Dan aku baru sadar, di belakang ibu ada ibu guruku, pamanku yang seharusnya bertugas menjemputku dengan sepeda, Kak Ini, namanya. Juga ada penjaga sekolah, beberapa orang tetangga dekat rumah.

Rupanya, ibu sudah menghubungi banyak orang untuk meminta bantuan guna mencariku yang tidak pulang-pulang hingga sore.

Tiba di rumah, aku dimandikan, lalu disuapi makanan. Sambil menyuapi, ibu tidak berhenti menangis dan memelukku. Aku pun bercerita bahwa aku tidak tau aku tinggal dimana dan dimana rumahku.Ibu terlihat bingung mendengar ceritaku.

Pekan depannya, ibu membawaku ke Psikolog.
Entah apa yang dikatakan oleh Psikolog pada ibuku, hanya saja, setelah pulang dari Psikolog, ibu setiap hari menyuruhku ke warung terus untuk membeli sesuatu.

"De. Ke warung Mpok Dijeh, beli sarsaparila, sama kue gemblong satu."

Aku pun berjalan ke arah warung. Tapi, sampai di warung Mpok Dijeh, aku lupa harus membeli apa. Lalu pulang lagi ke rumah, dan bertanya beli apa saja. Ibu kembali memberi instruksi. Lalu aku kembali ke warung, dan setelah antri untuk membeli dan tiba giliranku dilayani, aku lupa lagi.

Begitu terus.
Jika sudah begitu, ibu akan menyudahi perintahnya. Tidak jadi membeli. Tapi, besoknya kembali disuruh ke warung lagi. Dan aku lupa lagi.
Begitu saja terus.

Lalu bulan depannya aku kembali di bawa ke Psikolog.
Demikianlah masa kecilku.
Lekat dengan kejadian tersesat dan tersasar, serta sering dibawa ke Psikolog oleh orang tuaku.

Jika saja jaman itu sudah ada internet dan handphone, bisa jadi hal ini bisa diatasi ya. Tinggal telepon lalu tinggal dijemput. Tinggal menyalakan aplikasi "lacak handphone", maka orang lain bisa mendapatkan kita ada dimana. Atau tinggal menyalakan google map atau waze, dan ikuti saja perintah google map dan waze.
Hehehe.
50 komentar on "Tersesat dan Tersasar"
  1. Ceritanya bikin ngilu hati, Mbak, ngebayangin perasaan Ibunda...

    BalasHapus
  2. Duh Ya Allah Mbak Adeeee.. Terus akhirnya gimana Mbak pas habis dari psikolog itu? Alhamdulillah ya waktu itu ketemu sama Ibu akhirnya.

    BalasHapus
  3. Mbak aku kepo jadi sebenarnya kata Psikolog nya kenapa? Soalnya anakku juga pernah kayak gini. Dia bilang habis nonton film di sekolah, aku yang film apa dijawab enggak tahu, bingung . Dan beberapa pertanyaan lainnya yg terlihat "sepele" juga ga bisa dijawabnya:(

    BalasHapus
  4. Sedih aku baca postingan ini. Untungnya rumahku jauh dari rel kereta api. Kalau pergi ke psikolog gitu ada perasaan takut nggak ya, Mbak? Aku belum pernah dibawa ke psikolog.

    BalasHapus
  5. Ya ku juga sering lupa, short term memory ku agak payah tapi udah gedean agak mendingan karena ku suka mencatat hehehe.. semoga ga tersasar lagi ya mba ade

    BalasHapus
  6. Mpo juga suka lupa makanya Mpo punya blog .

    Kesasar dan tersesat akan membawa hikmah minimal mba harus sering mencatat.

    BalasHapus
  7. Ya Allah mbaa, tulisannya bikin sedih nih mba, ngga kebayang rasanya waktu itu.
    Setidaknya jadi kisah tersendiri yang bisa dikenang dan diambil pembelajarannya

    BalasHapus
  8. Hmmm sedih ya ceritanya, untuk masalah ingatan saya sendiri ya kadang lupa-lupa inget ya.

    BalasHapus
  9. Ya Allah mbak sedih banget ceritanya. Katanya kenapa mbak kata psikolog? kok bisa begitu sih

    BalasHapus
  10. Diceritakan dong mbak waktu di psikolog diapain? Jujur, untuk untuk tua apada zamannya sadar akan kebutuhan psikolog itu bagi saya luar biasa.

    BalasHapus
  11. Aduduuu ..afa anak hilang niiih, hehehe... Segitu seriusnya mbak Ade pelupanya sampe dibawa ke Psykolog. Ternyatai gkin dr kecil otak mungilnya udah memyimpan ifeicrmrrlang buat bikin buku tp blm tersalurkan. Jd deh pelupa - fisuruh ke Warung aja pake kupa..hehe..

    BalasHapus
  12. Mbak Ade, maap ini hp suka error, yg ditulis apa yg muncul lain lg. Bulan typo #ngeles, tp emang error nih hp.
    Repeat komentar di atas, ya:
    Aduduuu ada anak hilang niih, hehehe... Segitu serius pelupanya Ade sampe dibawa ke psikolog. Ternyata mungkin dari otak mungilnya udah menyimpan ide ide ceang utk diurai dlm sebuah buku, tp blm tersalurkan. Jadilah Ade Anita kecil ini disuruh ke warung aja lupaaa. Kumaha eta teh Ade anu geulis tea? Hilapna mani teungteuingen, wkwk...tp sekarang donk siapa Ade Anita. Penulis hebat.

    BalasHapus
  13. Kebiasaan tersesat dan tersasar itu akhirnya hilang sendiri ya Mbak? Atau apakah karena ada teknologi saat ini jadi tidak tersesat lagi?

    BalasHapus
  14. Duh kisah yg tak akan terlupakan pastinya ya Mba...Aku jg punya masalah di mengingat arah, ingat ikut ke kamar mandi di kantor tptTayah kerja pas keluar aku udah bingung hes kemana..wkwwk... sekarang masih juga tp diatasi dgn ekstra mengingatnya..hehe

    BalasHapus
  15. Kisah ini bikin aku nangis Mba...kebayang perasaan ibunya juga oerasaan ketakutannya Mba Ade, untung msh panjang usia ya..ada yg narik pas kereta mau datang, belum wktnya hehe..

    BalasHapus
  16. Hiks aku jd ingat adikku yg hilang, main terlalu jauh tp akhirnya diculik baru jm 1 pagi ditemukan krn d bawa seorg prempuan Naik bus dn diturn ditengah Jon hanya utk mngambil anting emasny fuhhh kenangan bikin takut y mba.����

    BalasHapus
  17. Ya Allah, pasti panik bgt ya pas kesasar. Dan herannya, kenapa para ibu itu jago sekali menemukan anaknya di mana pun ia berada?

    BalasHapus
  18. saya juga pernah dicariin papa di rumah temanku waktu SD, Mba. Saat itu saya ikut teman ke rumahnya tanpa minta izin dulu ke ortu, akibatnya mereka bingung dan panik cariin saya. papaku sampe ke sekolah dan mendatangi rumah temanku satu per satu untuk mencariku. Sejak saat itu saya diberitahu kalo mau main ke rumah teman harus izin dulu, atau kalo mau main sama teman, ajak mereka aja main ke rumah kami

    BalasHapus
  19. Anakku juga sama persis kaya mba Ade. Kalau diminta beli sesuatu, nanti balik lagi tanya disuruh beli apa. Diminta ambil tissue, diambilnya botol minum. Kadang suka bilang, Eh tadi Shoji mau ngapain ya" ternyata memang lucu dan unik ya kelakuan anak anak

    BalasHapus
  20. Duh mba ade, aku pun pelupa tapi ternyata mba ade sampai lupa jalan pulang, dan kebayang bingung dan sedihnya saat lupa jalan pulang, untungnya masih ditemukan dan ibunya mba Ads berinisiatif untuk membawa ke psikolog dan menstimulasi dengan baik

    BalasHapus
  21. Aku juga dulu sering tersesat dan nyasar mba. Alhamdulillah sekarang udah gak takut lagi karena udah terbiasa bepergian jauh dan ada ojol.

    BalasHapus
  22. hahaha...hasil dr psikolog apa aja mba. waktu kecil seumur banyak yg lupa kok. adikku juga kelas satu SD juga pernah lupa rumahnya dimana. padahal sekolahnya dekat tinggal lurus dan belok kanan dan lurus terus. emang dasar anak kecil pelupa.

    tapi namanya orangtua pasti nangis kalau anaknya ga pulang sampe sore.

    BalasHapus
  23. Aku lecil pernah tersasar juga deh mba ade.. tapi ngga inget banget ceritanya seperti apa lagi. Memang paling sereeem kalau udah begitu yaaa.. panik!

    BalasHapus
  24. Justru sekarang jadi cerita yang layak dikenang ya bund, aku rumahnya nggak dekat dengan kereta api tapi depan jalur pantura tiap hari suara klakson bikin nggak bisa bobok. Ceritain bund yang cerita ke psikolog, ak belum pernah ke sana dan horor ga sih bun

    BalasHapus
  25. Ya Allah mbk, alhamdulillah ya ada yang nyelametin pas mau jalan ke rel kereta api. Kalo aku dulu pernah diajak kabur dari pesantren, bukannya kesasar tapi ketiduran di teras rumah orang. Di balikin deh ke pesantren ^^

    BalasHapus
  26. Duu mbak Ade aku jadi terharu baca sikap ibunya mbak Ade. Pasti ibu khawatir banget ya waktu itu. Aku waktu kecil pernah kesasar tapi habis itu aku diantar orang yang kenal sama ibuku

    BalasHapus
  27. Alhamdulillah selamat ya Mbak dan Ibu yang menemukan Mbak.
    terus, gak pernah gitu Mbak, nanya ke Ibu hasil dari tes Psikolog itu apa?
    untungnya sekarang ingatannya udah oke ya Mbak, heheheh :)

    BalasHapus
  28. Ceritanya gantung nih, mba, hahaha
    Kudu dilanjut nih, bagaimana akhirnya bisa terbebas dari itu semua.
    Jadi pemirsah bisa banyak belajar.

    Gimana, penonton eh pemirsah semua, setuju?


    BalasHapus
  29. Mengingatkan sama masa kecil saya, Mbak. Pernah coba pulang sekolah sendirian juga. Bikin panik orang tua. Setelah sekarang menjadi orang tua juga berasa gimana paniknya kalau anak susah dihubungi

    BalasHapus
  30. Ini karena apa ya tersesat lupa melulu, apa karena memang anak kecil kan maaoh TK atau karena ada trauma psikologi mba Ade? Bacanya aku jadi sedih

    BalasHapus
  31. Short Memory Lost - kah mba?
    Aku juga suka bingung arah siih...tapi kalau dilewatin tiap hari, rasa bingungnya makin berkurang.

    Ples,
    kakakku semua laki.

    Jadi jiwa petualangnya tinggi.
    kesasar, ya coba lagi, nanya lagi.
    Hihii...begitulah nasib anak terakhir - perempuan sendiri dalam keluarga.

    BalasHapus
  32. Aku malah hilang waktu camping saat kelas 5 dulu. Tapi kata kakak pembina dan teman-teman tuh, di lokasi aku tidur udah nggak ada orang. Padahal kan aku masih di situ. Ada yang akhirnya menyimpulkan kalo aku disembunyikan dari penglihatan manusia oleh penunggu masjid. Entah lah, rasanya aku gak kemana-mana

    BalasHapus
  33. Aku penasaran apa kata psikolog tentang lupanya Mbak Ade alamat dan juga saat diberi pesan untuk membeli di warung? karena waktu aku mengajar memang melatih anak-anak untuk menyampaikan pesan apa yang sudah disampaikan secara lisan.

    BalasHapus
  34. Aku kaget dengan nama sahabatnya Mba Ade, kok sama. Aku sempet mikir, jangan jangan dulu aku pernah punya temen namanya Ade wakaka. Tapi pas dibaca deskripsi Dewi nya ternyata bukan aku. Aku rambutnya lurus Mba wekeke

    BalasHapus
  35. Semua orang tua pasti resah dan gelisah kalau anaknya tidak pulang-pulang. Dan mamahnya Mbak Ade juga pasti begitu.
    Alhamdulillah ya, Mbak. Akhirnya bisa kembali ke rumah lagi.

    BalasHapus
  36. Baca tulisan Mba Ade, jadi keinget kejadian sodaraku. Anaknya pernah ilang, karena keasikan main di rumah temennya yg baru dikenal, eh gak tahu jalan pulang. Terus semua keluarga ku dan sodaraku nyari2 anaknya. Alhamdulillah bisa ketemu.

    BalasHapus
  37. Mbaaak..aku jadi bayangin gimana kalau aku ada di posisi Mbak Ade, atau kalau aku ada di posisi ibu. :(

    Tapi "penyakit" (duh, koq penyakit ya sebutannya? apa ya enaknya? kelemahan?) ini gimana bisa sembuh, Mbak?

    Lalu untuk mengingat pelajaran, ada kesulitan juga kah?

    BalasHapus
  38. Tapi anak TK bukanny masih wajar y mb gak inget sm rumahnya di mana atau lewat mana
    Jujur, aku malah kepo yg dikatakan psikolog apaan kok tiap hari disuruh ke warung beli sesuatu
    Maksudny kenapa harus warung, apa cuma kebetulan aja, heheh

    BalasHapus
  39. Duuh pasti ga enak banget ya mbak..kesasar di tempat yang kita ga tau apalagi nyaris berjalan di rel kereta. Alhamdulillah masih dilindungi Allah ya mbak.

    BalasHapus
  40. Mba Ade dulu ga dikasih solusi membuat peta sesuai dengan kemampuan sendiri jadi bikin oret2an dari rumah kemana kesitu atau pas disuruh ke warung mba Ade coba buat tulisan?aku jadi ingat waktu belajar psikologi umum tentang amnesia anterograde jadi lupa yg short term memorynya dan tidak dapat sembuh krn permanen. jadi penasaran mb Ade sembuh apakah tidak>?ditunggu postingan selanjutnya

    BalasHapus
  41. Wah ngebayangin perasaan ibunya mbaa.. tapi alhamdulillah langkahnya tepat ya dibawa ke psikolog? Diaktivasi gitu kali ya mba istilahnya? Jadi biar semakin terbiasa gitu.

    BalasHapus
  42. Aku selalu suka liat gambar gambar di postingan blog ini. Lucu lucu deh. Bikin makin semangat bacanya

    BalasHapus
  43. Aku nih sekarang suka gampang lupa. Kalo diteliti mungkin masuk short term lost memory juga. Tapi mungkin masih ringan. Aku kayaknya faktor umur. Baca tulisan Mbak Ade ini bikin saya jadi worit. Takut deh saya kayak gitu juga. Nyasar-nyasar tersesat. Semoga saja tidak. :(

    BalasHapus
  44. Bener banget ya mba, coba saat kejadian itu sudah ada GPS tanam, udah dipasangi GPS terus tuh Mb Ade :)) Aku ikut-ikutan khawatir membaca cerita masa kecilmu itu mba. Panik kan ya kalau jadi ibu anaknya ga tau arah dan pelupa gitu ;)

    BalasHapus
  45. hehehe.. mbak Ade.. mbak Ade... itu waktu kecil bisa kesasar kaya gitu.. mugkinkah mbak ade ada bisikan apa gtu? heehehe.. aku cuma inget mbak ade dulu indigo jadi kali aja ada bisikan apa apa gitu ekekek

    BalasHapus
  46. Wah bisa sampai gtu mbak Ade? Kalu skrng msh seperti itu mbak?
    Btw aku jg keinget tetanga temenku pas diturunkan di depan komplek perumahan sama saudara kenalanya, eh malah gak nyampai rumah dan kesasar jauh. meman sebaiknya kalau antar anak kecil harus langsung ke rumah ya.

    BalasHapus
  47. mba aku juga sering kesasar tapi bukan karena lupa tp karena ketiduran di bus. Nah kalo lupa aku juga sbenarnya pelupa. Tambah parah ini semakin hari. Kadang lagi duduk aku pengen apa trus bangun, nah pas dah berdiri aku lupa pleng mo ngapain.

    BalasHapus
  48. Ya allah mba ade, aku ikut deg2an baca cerita pas tersesatnya. Alhamdulillah ya masih dipertemukan dengan orang2 baik.

    Aku penasaran sama analisa psikolognya mba

    BalasHapus
  49. sekarang masih suka nyasar ga mba? Kalau pun nyasar, enak sekarang kan ada internet dan google map ya. Aku salut sama ibunya mba. Sabar banget ya.

    BalasHapus
  50. Ditunggu lanjutannya Mba Ade.

    Sabar banget ibunya, untung bisa pulang ketemu ibu lagi :)

    BalasHapus